Pesisir Barat, LensaPeristiwaNews.com — Warga Dusun Batubulan, Pekon Malaya, Kecamatan Lemong, dikejutkan dengan serangkaian serangan ternak yang diduga dilakukan oleh tiga ekor Harimau Sumatera. Dalam dua kejadian berbeda, total tujuh ekor kambing milik warga dilaporkan mati dimangsa, dengan kerugian ditaksir mencapai Rp8 juta.
Insiden ini terjadi di wilayah Atar Paling, area perbatasan antara hutan produksi terbatas dan lahan milik warga. Kepala UPTD KPH Pesisir Barat, Dadang Trianahadi, mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan masyarakat.
Tim gabungan yang terdiri dari aparat Kecamatan Lemong, TNI-Polri, KPH, Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Wildlife Conservation Society Indonesia Program, BPBD, serta Satgas konflik satwa liar setempat, turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan pengumpulan data.
“Dari hasil peninjauan, kami menemukan indikasi kuat adanya lebih dari satu individu harimau yang terlibat,” ujar Dadang.
Serangan pertama terjadi pada Senin malam, 27 April 2026 sekitar pukul 18.30 WIB, ketika satu ekor kambing milik Suandi menjadi korban. Dua hari kemudian, Rabu malam, 29 April 2026 sekitar pukul 20.30 WIB, serangan kembali terjadi dan kali ini lebih masif, dengan enam ekor kambing tewas di lokasi yang sama.
Tim menemukan jejak kaki dengan ukuran bervariasi, mulai dari 8,5 cm hingga 14,5 cm, yang mengarah pada dugaan adanya harimau dewasa bersama anakan. Temuan ini memperkuat indikasi bahwa satwa tersebut bergerak dalam kelompok kecil.
Selain melakukan investigasi, petugas juga memberikan imbauan kepada warga agar lebih waspada, terutama saat beraktivitas di kebun atau saat malam hari. Warga diminta memperkuat kandang ternak dan menghindari aktivitas sendirian di area yang berbatasan langsung dengan hutan.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama. Keselamatan warga penting, tapi keberadaan harimau juga harus dijaga karena merupakan satwa dilindungi,” tegasnya.
Peristiwa ini kembali menegaskan tingginya potensi konflik manusia dengan satwa liar di wilayah penyangga seperti sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Diperlukan langkah mitigasi yang berkelanjutan agar kejadian serupa tidak terus berulang, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem yang ada. (Chan)


